Sabtu, 12 Juni 2010

URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KELUARGA

P E N D A H U L U A N
Sikap hidup dan perilaku Nabi Suci Muhammad SAW senantiasa “ hidup “ dan terus menjadi panutan setiap muslim untuk membangun akhlak mulia.
Akhlak adalah kelakuan, yang mana akhlak di sini adalah berupa kelakuan manusia yang sangat beragam, keanekaragaman tersebut dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain nilai kelakuan yang berkaitan dengan baik dan buruknya suatu perbuatan manusia itu sendiri.
Akhlak merupakan suatu perbuatan yang bertujuan jelas yaitu : untuk memperbaiki pribadi muslim sehingga bisa melaksanakan Islam dengan sebaik-baiknya, adapun perbaikan yang dimaksud di sini adalah : segala sesuatu yang sesuai dengan apa yang diterangkan oleh Al Qur’an dari Hadits Nabi SAW.
Merujuk pada sebuah ayat Al Qur’an surah Al Ahzab yang artinya : Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik bagimu ……
Yang mana salah satu sumber suri teladan adalah perilaku Rasul SAW yang mana Rasulullah SAW dengan kehadirannya di muka bumi ini sebagai sesorang yang diutus untuk menyempurnakan akhlak.
Berbicara tentang akhlak maka dalam makalah ini penulis akan mencoba sedikit menguraikan tentang urgensi pendidikan akhlak dalam keluarga.



P E M B A H A S A N
URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KELUARGA
A. AKHLAK
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata Akhlak diartikan sebagai Budi Pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa arab ( yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama ), namun kata seperti itu tidak ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut, yaitu : Khuluq yang tercantum dalam Al Qur’an ayat 4 surat Al Qalam :
وإنك لعلى خلق غظيم
“Sesungguhnya engkau ( Muhammad ) berada di atas budi pekerti yang agung”. ( Q.S Al Qalam : 4 ).
Kata Akhlak banyak ditemukan dalam hadits-hadits Nabi SAW, dan yang paling populer adalah :
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق ( رواه مالك ).
Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Akhlak merupakan perbuatan yang lahir dari kemauan dan pemikiran, dan mempunyai tugas yang jelas dan dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah : Jalan menuju kebahagiaan manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat.
Keluarga Muhammad SAW telah menanamkan ajaran-ajaran yang membimbing kita menuju kebahagiaan yang diimpikan semua orang. Bahkan lebih dari itu, kita dapat mengambil faedah dari Akhlak yang telah diajarkan Rasulullah SAW dan keluarganya untuk berhias diri dengan ajaran Rasul SAW, serta membentuk keperibadian kita pada sosoknya yang paling baik, paling cemerlang dan suci.
Al-Mufadhdhal bin Umar meriwayatkan dari Al-Shadiq yang mengatakan : “Hendaklah kamu sekalian memiliki akhlak mulia, karena sesungguhnya Allah SWT mencintainya, dan hendaklah kalian menjauhkan diri dari perangai buruk karena Allah SWT membencinya.”
B. AKHLAK ISLAMI
1. Di antara Akhlak Rasulullah SAW.
Akhlak Rasulullah SAW adalah : Al Qur’an. Beliau membenci apa yang dibenci Al Qur’an dan merasa senang apa yang disenanginya. Tidak dendam dan marah kepada seseorang kecuali jika melakukan hal-hal yang diharamkan Allah SWT, sehingga kemurahannya karena Allah SWT.
Rasulullah SAW merupakan orang yang paling jujur ucapannya, paling memenuhi tanggung jawabnya, paling lembut perangainya, paling mulia pergaulannya, lebih pemalu dari perwan pingitan, rendah hati dan selalu berpikir, tidak keji dan tidak pengutuk, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tapi membalasnya dengan memberi maaf dan jabat tangan, barangsiapa meminta suatu kebutuhan maka tidak pernah ditolaknya dengan hati kasar dan sikap keras,tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali jika bertentangan dengan kebenaran sehingga memotong pembicaraannya dengan larangan atau berdiri, tidak menganggap bohong kepada sesorang, tidak dengki kepadanya dan tidak memintanya untuk bersumpah.
Rasulullah SAW menjaga tetangganya dan menghormati tamunya, waktunya tidak pernah berlalu tanpa beramal untuk Allah SWT atau mengerjakan sesuatu yang harus dikerjkan. Cinta kepada optimisme dan benci kepada pesimistisme, jika ada dua pilihan maka beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya selama tidak merupakan dosa. Senang menolong orang yang membutuhkan dan membantu orang yang teraniaya.
Rasulullah SAW juga senang kepada sahabat-sahabatnya, bermusyawarah dengan mereka, dan memeriksa mereka, barangsiapa sakit dikunjunginya, barangsiapa tidak hadir diundangnya, barangsiapa meninggal dunia dido’akannya serta menerima alasan orang yang uzur kepadanya. Baginya orang yang kuat dan orang yang lemah mempunyai hak yang sama. Beliau juga berbicara, jika orang menghitung pembicaraannya tentu akan dapat menghitungnya karena kefasihah dan pelannya. Di samping itu beliau juga bergurau dan tidak mengucapkan sesuatu kecuali kebenaran.
2. Sopan Santun dan Kerendahan Hati Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW adalah orang yang paling sayang dan hormat kepada para sahabatnya, memberi tempat lapang kepada mereka jika kesempitan, memulai salam kepada orang yang dijumpai, dan jika berjabat tangan dengan sesorang tidak pernah melepaskan sebelumorang tersebut melepaskan tangannya.
Rasulullah SAW adalah orang yang paling rendah hati, jika berada bersama pada suatu kaum dalam mejelis selalu duduk bersama mereka dan tidak berdiri sebelum majelis selesai. Setiap yang duduk bersama beliau diberi haknya masing-masing sehingga tidak seorangpun yang merasa bahwa orang lain lebih mulia daripada dirinya di hadapan Rasulullah SAW. Jika sesorang duduk didekatnya, beliau tidak berdiri sebelum orang tersebut berdiri kecuali jika ada urusan yang mendadak, maka beliau meminta izin kepadanya.
Rasulullah SAW benci kepada orang yang berdiri menghormatinya. Dari Anas bin Malik ra berkata : “ Tak seorangpun yang mereka cintai lebih dari cinta mereka kepada Rasulullah SAW, tapi jika mereka melihat Rasulullah SAW, mereka tidak berdiri untuk menghormati beliau karena beliau benci hal yang demikian” ( HR Ahmad dan At Tirmidzi ).
Beliau menyenangi hal-hal yang baik dan tidak suka kepada hal-hal yang tidak baik seperti bawang putih dan bawang merah atau yang serupa dengannya, beliau haji sambil mengatakan :
اللهم هذه حجة لارياء فيها ولاسمهة ( رواه المقدسى )
“Ya Allah SWT, ini adalah benar-benar haji yang tidak ada riya dan tidak mencari popularitas di dalamnya “ ( HR Maqdisi ).
C. TELADAN NABI
Yang Maha Agung berfirman dalam Al-Qur’an “ Sesungguhnya telah ada pda (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah SWT” (QS. Al-Ahzab : 21)
Salah satu sumber “suri teladan” adalah perilaku Rasulullah Swt satu dari sekian banyak rahmat Allah Swt dan bagian dari kebanggaan kita sebagai umat Islam, dibandingkan dengan pengikut agama lain, terletak pada fakta bahwa sebagian besar perkataan otentik Rasulullah (sesuatu yang tidak kita ragukan lagi diucapkan langsung oleh Rasulullah) sekarang masih berlaku bagi kita.
Bukan hanya perkataan-perkataan beliau saja yang mengandung makna yang tersembunyi, bahkan perilaku Rasulullah Saw sendiri merupakan subjek untuk penafsiran yang sudah seharusnya direnungkan secara mendalam. Dalam Al-Qur’an dikatakan : “Sesungguhnya telah ada dalam (diri) Rasulullah Saw itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah Swt dan kedatangan hari akhir dan dia banyak menyebut nama Allah Swt ( QS. Al-Ahzab : 21)
Sebagaimana telah disebutkan dalam ayat Al-Qur’an di atas, perilaku Rasulullah Swt adalah suri teladan bagi pengikutnya. Keberadaan beliau bagaikan sebuah sumber atau titik pusat semua tindakan dan hukum. Riwayat kehidupan Rasulullah Swt bukan untuk kepentingan cerita semata, tetapi lebih penting lagi adalah penafsiran dan penerapan perilaku yang beliau contohkan untuk kita.
Akhlak yang diajarkan nabi adalah akhlak yang membimbing manusia tentang bagaimana cara hidup, dan bukan tantang bagaimana cara untuk mati. Nabi Saw adalah contoh hidup dari apa yang diajarkannya itu. Sabda Rasulullah Saw :
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق ( رواه مالك ).
“Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan Akhlak”.
Urgensi Pendidikan Islami bagi Anak
Saat ini anak-anak mengalami krisis keteladanan. Hal ini terjadi karena orang tua, para guru dan mass media kurang banyak mengangkat tokoh-tokoh teladan bagi anak-anak. Tayangan-tayangan televisi misalnya, didominasi acara hiburan dalam berbagai variasinya, acara sinetron atau acara gosip selebriti tidak dapat diharapkan memberikan contoh kehidupan Islami secara utuh. Sementara itu porsi penanaman akhlak mulia melalui contoh pribadi teladan pada pelajaran-pelajaran keislaman di sekolah juga masih rendah.
Dalam kondisi krisis keteladanan ini, keluarga menjadi basis penting bagi anak untuk menemukan keteladanan. Maka ayah dan ibu menjadi figur-figur pertama bagi anak untuk memenuhi kebutuhan ini. Oleh karenanya orang tua mesti memiliki kesadaran untuk menjadi pribadi teladan dalam proses pembentukan akhlak Islami pada anak.
Pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah Saw, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.
Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru, hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah terhadap pendidikan putra-putri secara islam. Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman dalam Surah At-Tahrim: 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. Dan di dalam hadits Rasulullah Saw bersabda : “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban”.
Untuk itu seorang guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Saw. Beberapa tuntunan tersebut antara lain:

- Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak
Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid, dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam azab neraka. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)
Rasulullah Saw sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas Ra dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan, Ibnu Abbas bercerita : “Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah”.
Perkara-perkara yang diajarkan oleh Rasulllah Saw kepada Ibnu Abbas di atas adalah perkara tauhid.

Tuntunan berikutnya ialah:
- Mengajarkan taat kepada kedua orang tua, dalam batas-batas ketaatan kepada Pencipta, sebagai manifestasi kesyukuran seseorang kepada Ilahi.
- Mengajarkan “husnul mu'asyarah” (pergaulan yang benar) serta dibangun di atas dasar keyakinan akan hari kebangkitan, sehingga pergaulan tersebut memiliki akar kebenaran dan bukan kepalsuan.
- Menanamkan nilai-nilai “Takwallah”.
- Menumbuhkan kepribadian yang memiliki ketaatan kepada Allah yang kuat, di antaranya dengan mendirikan shalat.
Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Mulai dari tatacara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabd: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).
Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah menganjurkan kepada para orang tua supaya mengajari anak-anak untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan memukul mereka bila tidak mau shalat ketika mereka sudah berusia sepuluh tahun.

- Menumbuhkan dalam diri anak “kepedulian sosial” yang tinggi (amr ma’ruf-nahi munkar).
- Membentuk kejiwaan anak yang kokoh (Shabar).
- Menumbuhkan “sifat rendah hati” serta menjauhkan “sifat sombong”
- Mengajarkan “kesopanan” dalam sikap dan ucapannya.

Seorang tokoh pendidikan Islam, Ali Asraf berpendapat bahwa pendidikan merupakan sebuah aktivitas yang memiliki maksud tertentu, diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya. Manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Dalam Al-Quran Allah menjelaskan tentang nama-nama benda, mengajarkan norma-norma kepada manusia pilihan, yaitu para Nabi. Norma-norma dan prinsip-prinsip serta metode-metode tentang pembelajaran dan pengetahuan telah Allah turunkan melalui wahyu.
Iqbal pernah mengungkapkan: “Sistem pendidikan Barat mampu membawa anak-anak kita mengkagumi dan mempelajari kemajuan teknologi, tetapi tidak bagi mendidik mata anak-anak untuk menangisi dosa-dosanya dan mendidik hati mereka supaya takut hanya kepada Penciptanya”.
Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagaimana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa.”

Al Qur'an mengisahkan, Ibrahim dan Ya'qub senantiasa mewasiatkan anak-anaknya tentang agama Islam. Bahkan Ya'qub AS disaat-saat menjelang maut menjemputnya, menyempatkan diri bertanya kepada anak-anaknya: "madzaa ta'buduuna min ba'di" (Apa yang akan kalian sembah setelah kematianku)? QS: Al Baqarah: 133.
Gambaran Ibrahim dan Ya'qub AS di atas mengajarkan betapa besar perhatian mereka terhadap kesadaran beragama bagi anak-anak mereka. Sebaliknya, ummat Muslim saat ini seolah-olah telah mengganti ayat "maadza ta'buduuna" (apa yang kamu sembah) dengan kata-kata "maadza ta'kuluuna" (apa yang akan kamu makan setelah aku meninggal). Kepedulian terhadap kelangsungan kesadaran beragama anak-anak kita sangat minim sekali. Sehingga sebagai ilustrasi, seringkali jika anak kembali dari sekolah yang ditanyakan adalah nilai berapa yang kamu dapatkan? Sementara shalatnya tidak dipedulikan sama sekali.
Pendidikan anak bukan hanya disekolah saja, tetapi dirumah dan di masyarakat sekitar kita. Sebagai orangtua hanya berusaha membangun fondasi yang kuat untuk mereka termasuk mental-spiritual dan kita harus dapat menjadi teladan yang baik untuk anak kita.
Banyak orangtua di zaman sekarang yang membiarkan anak-anak mereka menonton televisi tanpa batas. Tidak ada teguran, tidak pula contoh tauladan. Bahkan mereka juga ikut menonton televisi atau justeru sibuk bergosip.
Mereka membiarkan anak-anak mereka meninggalkan shalat. Membiarkan anak-anak mereka mencontoh gaya berpakaian orang-orang yang bebas. Membiarkan anak-anak mereka bergaul di luar tata kehidupan Islami. Membiarkan puteri-puteri mereka keluyuran di malam hari. Betapa tidak pedulinya para orang tua kepada anak mereka yang seharusnya mereka anggap sebagai mutiara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar